Soal Impor Komoditi Pangan Ini Kata Kedua Capres

Administrator - Minggu, 17 Februari 2019 15:55 WIB

Jakarta, Dalam debat calon presiden (capres) kedua calon mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi pertanyaan. Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto memberikan pertanyaan kepada capres nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi).

Ia menanyakan terkait janji Jokowi yang tidak akan mengimpor beras dalam kampanye pada 2014 lalu.

“Saya ingin bertanya bahwa bapak Jokowi waktu menjabat Presiden, dalam berbagai kesempatan menyampaikan tidak akan impor komoditas pangan. Ternyata dalam 4 tahun bapak memimpin bapak banyak sekali mengimpor komoditas itu ada datanya semua. Ini terus terang saja, yang kami dengar sangat memukul kehidupan petani kita, petani tebu panen tetapi gula dari luar masuk dalam jumlah yang sangat besar jutaan ton, dan juga komoditas lain padahal bapak banggakan produksi naik,” tanya Prabowo dalam Debat Capres Jilid 2 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019).

Dari pertanyaan tersebut, Jokowi menanggapi impor yang ia lakukan bertujuan untuk menjaga stok beras nasional.

“Sudah saya sampaikan, di tahun 2017 kita impor jagung 2,5 juta ton, 2018 impor 180 ribu ton. Petani kita telah memproduksi 3,3 juta ton. Sehingga impor itu sekarang ini dapat dikatakan jauh berkurang. Memang, tidak mungkin membalikkan keadaan, perlu waktu,” jelas Jokowi.

Jokowi juga menyampaikan terkait beras, pada 2018 produksi beras mencapai 33 juta ton. Konsumsi rakyat Indonesia sekitar 29 juta.

“Ini artinya ada surplus sekitar 3 juta ton. Kenapa impor? Karena impor itu untuk menjaga ketersediaan stok, menstabilisasikan harga. Kita harus punya cadangan untuk bencana hingga gagal panen,” jelas dia.

Selanjutnya Prabowo kembali menanggapi pernyataan Jokowi. Menurut dia jika terjadi kelebihan produksi mengapa harus dilakukan impor.

“Kalau kita benar kelebihan 3 juta, kenapa harus kita impor. Apakah tidak lebih baik devisa itu dihemat, digulirkan untuk buka lahan baru, beli benih dan pupuk agar sampai ke petani,” jelas dia.

Jokowi kembali menjawab pertanyaan Prabowo. Menurut Jokowi yang paling sulit adalah jaga keseimbangan harga agar petani senang dan masyarakat senang.

“Kalau kita ingin naikkan produk gabah, ya naikkan HPP (harga pokok produksi). Tapi kan masyarakat merasakan beban di situ, keseimbangan ini harus kita jaga, petani untung tapi masyarakat jangkau harga di pasar,” jelas dia.red

Editor
: Administrator

Berita Terkait

Berita

DPD AMPI Sumut Gelar Musda IX, David Luther Lubis Kembali Terpilih Pimpin AMPI Sumut

Berita

MAVI Korwil Sumut Bubarkan Panitia Kejuaraan Bola Voli U-15 Sumut 2026

Berita

Wagub Jihan Dorong PJ91 Wujudkan Semangat Bersatu, Berbaur, dan Berdampak

Berita

Fachrul Razi: Revisi UUPA Ancam Perdamaian dan Perpanjang Kemiskinan Aceh

Berita

Dari Autogate ke Nusakambangan: Kemenimipas dan Ujian Konkret Asta Cita

Berita

Ketua Pengprov TI Sumut Tunaikan Janji Beri Bonus ke Atlit Taekwondo