Massa Walhi-Petugas Keamanan Ribut di Depan Grand Aston

Administrator - Kamis, 31 Januari 2019 06:33 WIB

MEDAN IAksi damai Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sumatera Utara diwarnai cekcok, dengan petugas keamanan. Belasan orang yang mendatangi Bank Of China di Hotel Grand Aston, Jalan Raden Saleh, Kota Medan, Sumatera Utara, Rabu (30/1).

Kedatangan massa adalah untuk menyerahkan surat kepada Bank of China yang berpusat di Tiongkok itu. Karena ditengarai sebagai pemberi dana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru.

Massa awalnya membentangkan poster yang berisi tulisan meminta Bank of China menghentikan pendanaan pembangunan PLTA.

Selain itu, massa juga memakai topeng bergambar Orang Utan dan memegang poster berisi penolakan terhadap pembangunan PLTA berkapasitas 510 Megawatt itu.

Yang cukup unik, WALHI juga membawa orang berkostum Orang Utan, dalam aksi pengembalian surat kepada Bank of China tersebut.

Tak lama setelah aksi, Hujan mengguyur Kota Medan dengan derasnya. Membuat massa masuk ke dalam komplek gedung dan disitulah terjadi cekcok.

Petugas keamanan meminta WALHI tidak membawa massa masuk ke dalam gedung. Para petugas keamanan juga menyasar para jurnalis yang meliput. Petugas melarang jurnalis mengabadikan momen di dalam pelataran gedung.

Bahkan seorang sekuriti yang memakai helm putih juga sempat menghadang jurnalis yang sedang mengambil gambar. Sang petugas berdiri tepat di depan lensa seorang jurnalis.

“Apa maksudnya ini bang, kami ke sini untuk meliput. Bukan buat gaduh,” ujar para jurnalis. Cekcok terjadi berulang kali, hingga pada akhirnya mereka memperbolehkan para jurnalis meliput.

Massa WALHI menunggu konfirmasi dari pihak Bank di bawah guyuran hujan yang sangat deras. Di awal, pihak bank sempat menolak. Karena menurut mereka semua administrasi harus ditujukan langsung ke kantor pusat. Belakangan akhirnya surat itu diterima oleh petugas keamanan.

Koordinator Kuasa Hukum WALHI Golfrid Siregar mengatakan surat yang diantarkan berisi pendapat para ahli yang berisi pertimbangan para ahli soal pembangunan PLTA Batangtoru.

“Pendapat mereka sudah didengarkan dalam sidang gugatan WALHI terhadap izin pembangunan PLTA di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Kota Medan,” kata Goldfrid, Rabu (30/1).

“Kita menyampaikan soal pembangunan PLTA di daerah rawan gempa. Kita meminta Bank of China menghentikan pendanaan pembangunan PLTA,” sambungnya.

Lebih lanjut, Goldfrid menjelaskan bahwa persidangan soal gugatan WALHI ke PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) selaku pihak pembangun PLTA sudah bergulir beberapa pekan terakhir.

Sejumlah saksi ahli dihadirkan untuk memberikan pertimbangan dampak PLTA itu, jika diteruskan pembangunannya.

Mulai dari sisi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) hingga kepada spesies satwa dilindungi yang ada di dalamnya.

WALHI mencatat, hingga saat ini Orang Utan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis) yang mendiami hutan Batangtoru diprediksi hanya tinggal 800 individu.

Pembangunan PLTU Batangtoru ditengarai akan menyebabkan fragmentasi habitat dan berujung kepada kepunahan Orang Utan Tapanuli. (red)

Editor
: Administrator

Berita Terkait

Sumut

Hari Pertama Kerja Tahun 2026, Kejari Labuhanbatu Tingkatkan Status Penyidikan Dugaan Korupsi Dana Hibah Pramuka

Sumut

Malam Tahun Baru di Pengungsian, Bobby Nasution Dampingi Presiden Prabowo Beri Harapan untuk Warga Batuhula

Sumut

Wanita Korban Penganiayaan Petrus Minta Penyidik Unit PPA Polres Pelabuhan Belawan Profesional

Sumut

Bakopam Sumut Gelar Silaturrahmi Tahun Baru di Kediaman Anggota DPR RI Maruli Siahaan

Sumut

BAKOPAM Sumut Gelar Jum’at Berkah, Santuni Anak Yatim di Awal Tahun 2026

Sumut

Bakopam Sumut Bertahun Baru di Kediaman Tokoh Masyarakat RE Nainggolan