Syamsul Arifin dan Politik Kepercayaan: Mengapa Ia Dikenang sebagai “Sahabat Semua Suku” di Sumatera Utara

Administrator - Jumat, 30 Januari 2026 15:23 WIB
H. Muhammad Daud, S.Ag., MA., Gr
Medan – Nama almarhum H. Syamsul Arifin menempati ruang tersendiri dalam ingatan masyarakat Sumatera Utara. Di tengah kemajemukan etnis, agama, dan budaya yang kompleks, Syamsul Arifin dikenang bukan hanya sebagai pemimpin formal, tetapi sebagai sosok yang mampu membangun jembatan sosial lintas suku melalui pendekatan kemanusiaan dan komunikasi politik yang inklusif. Dari pengalaman itulah lahir julukan yang terus melekat hingga kini: "Sahabat Semua Suku."Penulis, Dr. H. Muhammad Daud, S.Ag., MA., Gr., yang mengenal almarhum sejak tahun 1992 saat Syamsul Arifin menjabat Ketua DPD KNPI Sumatera Utara, menuturkan bahwa almarhum sejak awal tidak pernah memimpin dengan sekat identitas."Beliau hadir apa adanya di tengah masyarakat. Dalam pergaulan sehari-hari, tidak ada jarak antara dirinya dengan rakyat, apa pun suku dan latar belakangnya," ungkap Daud.Kepemimpinan Inklusif di Tengah KeberagamanSyamsul Arifin dikenal dekat dengan berbagai kelompok masyarakat di Sumatera Utara, mulai dari Batak, Melayu, Jawa, Minang, Tionghoa, Nias, Aceh, hingga komunitas lainnya. Ia lebih memilih mendengarkan sebelum mengambil keputusan. Sikap inilah yang membuat semua kelompok merasa dihargai dan diikutsertakan dalam proses kepemimpinan.Bagi Syamsul Arifin, keberagaman bukanlah potensi konflik, melainkan modal sosial dan kekuatan kepemimpinan. Ia memahami betul sosiologi politik Sumatera Utara yang keras di permukaan, namun sesungguhnya hangat dan sarat nilai kebersamaan.Lahirnya Julukan "Sahabat Semua Suku"Julukan "Sahabat Semua Suku" pertama kali diucapkan oleh almarhum Latupariska, Ketua FKPPI Sumatera Utara, dalam sebuah pertemuan di rumah Syamsul Arifin. Saat itu, rumah almarhum dipenuhi masyarakat dari berbagai kalangan, profesi, dan etnis.Julukan tersebut langsung diterima luas karena bukan diciptakan sebagai slogan politik, melainkan lahir dari realitas sosial yang disaksikan banyak pihak. Ia mencerminkan gaya kepemimpinan Syamsul Arifin yang merangkul, bukan membatasi.Dialog sebagai Pilar KepemimpinanDalam memimpin, Syamsul Arifin tidak mengedepankan pendekatan kekuasaan semata. Ia memilih jalur dialog dengan tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Dalam situasi yang sensitif, ia hadir langsung di lapangan, bukan bersembunyi di balik birokrasi dan prosedur administratif.Ia memberi ruang kepada semua pihak untuk merasa memiliki Sumatera Utara. Pendekatan ini memperkuat rasa kebersamaan dan menumbuhkan kepercayaan publik terhadap kepemimpinan daerah."Kondusivitas Sumatera Utara pada masa itu bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, tetapi hasil dari kepemimpinan yang inklusif, kolaboratif, dan berani," jelas Daud.Kedekatan Emosional dengan RakyatKedekatan emosional dengan masyarakat menjadi salah satu ciri paling menonjol dari kepemimpinan Syamsul Arifin. Ia dikenal rajin menghadiri undangan masyarakat, baik dalam suasana suka cita maupun duka cita. Mengunjungi keluarga yang berduka dilakukan dengan ketulusan, tanpa protokoler yang berlebihan.Sikap tersebut membuat Syamsul Arifin dikenal luas, dipercaya, dan dicintai oleh masyarakat. Ia bukan pemimpin yang berjarak, melainkan pemimpin yang hidup di tengah rakyatnya.Politik Kepercayaan, Bukan Politik IdentitasKemampuan Syamsul Arifin membangun koalisi lintas kelompok—elit politik, birokrasi, hingga akar rumput—menjadi keunggulan yang jarang dimiliki. Dukungan yang diterimanya datang secara alami, lintas partai, lintas suku, dan lintas agama.Ia terpilih bukan karena memainkan politik identitas, melainkan karena politik kepercayaan. Syamsul Arifin memandang dirinya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat yang dipimpinnya."Rakyat tidak menuntut banyak. Mereka hanya ingin pemimpin yang bisa dipercaya dan mau hadir bersama mereka," ujar Daud.Memimpin dengan HatiBagi penulis, Syamsul Arifin adalah contoh bahwa memimpin Sumatera Utara—bahkan sebuah bangsa—tidak cukup hanya dengan kekuasaan. Kepemimpinan sejati harus dibangun dengan hati, empati, dan ketulusan."Ketika pemimpin memimpin dengan hati, maka rakyat dari semua latar belakang akan datang dengan sendirinya," pungkas Daud.Olrh :Penulis: Dr. H. Muhammad Daud, S.Ag., MA., Gr.

Sumber
:

Tag:

Berita Terkait