Oleh : H Syahrir Nasution
Kampus sejatinya bukan sekadar ruang akademik yang steril dari konflik. Ia adalah rumah nurani, tempat kebenaran diuji, diperdebatkan, dan diperjuangkan.
Kampus hanya akan benar-benar hidup apabila warganya—dosen, mahasiswa, dan seluruh civitas akademika—berani mengatakan kebenaran, sekalipun kebenaran itu pahit dan berhadapan langsung dengan kekuasaan.Keberanian seorang intelektual melawan ketidakbenaran penguasa bukan tindakan makar, apalagi pembangkangan. Ia adalah ibadah sosial. Sebab, di sanalah intelektualitas menemukan maknanya: berpihak pada kebenaran, bukan pada kenyamanan; berdiri di atas nurani, bukan di bawah tekanan.Mahasiswa dan civitas akademika ditempa bukan untuk menjadi penonton bisu. Mereka digembleng agar mampu tampil ke ruang publik, menyuarakan kebenaran secara jujur dan bertanggung jawab—tell the truth. Jika kampus memilih diam ketika melihat ketidakadilan, maka kampus telah mengkhianati mandat sejarahnya sendiri.Apa yang dilakukan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) di awal tahun ini menjadi penanda penting. Turunnya mahasiswa ke ruang publik dengan seruan "Revolusi Pendidikan" bukanlah sekadar ekspresi emosional. Itu adalah akumulasi kegelisahan—ganjalan hati yang terlalu lama dipendam, seolah ditutupi oleh sikap defensif dan ketidakberanian pimpinan kampus dalam membuka persoalan secara jujur.Ketika mahasiswa berbicara, sejatinya nurani kampus sedang menjerit. Panggilan sebagai calon intelektual sejati telah merasuk ke jantung kesadaran mereka, mendorong untuk membongkar persoalan yang tak kunjung diselesaikan. Ironisnya, kampus yang seharusnya menjadi mercusuar pencerahan justru terancam berubah menjadi "Universitas Gudang Masalah"—tempat persoalan menumpuk tanpa keberanian untuk diurai.Rektor dan pimpinan kampus seharusnya memahami satu hal mendasar: kritik mahasiswa bukan ancaman, melainkan alarm. Alarm bahwa ada yang tidak beres. Alarm bahwa nilai-nilai akademik sedang diuji. Alarm bahwa kampus sedang berada di persimpangan antara menjaga integritas atau tenggelam dalam kompromi.Sejarah membuktikan, perubahan besar bangsa ini selalu lahir dari keberanian kampus dan mahasiswa. Maka, ketika kampus dibungkam atau membungkam diri sendiri, yang mati bukan hanya demokrasi akademik, tetapi juga harapan akan masa depan yang lebih adil dan beradab.Pada akhirnya, kampus tidak boleh takut pada kebenaran. Sebab kebenaranlah yang membuat kampus tetap hidup.