Oleh: Safrizal (Presiden Komunitas Cinta
Polri)Setiap tanggal 1 Juli, spanduk ucapan selamat memenuhi jalanan. Dari gang sempit hingga gedung pencakar langit, dari baliho raksasa sampai status WhatsApp, semua berlomba mengucapkan, "Dirgahayu Bhayangkara."Ucapan itu terdengar indah. Bahkan sangat patriotik.Tetapi setiap kali mendengar kata dirgahayu, saya selalu teringat dua istilah yang sering dianggap sama padahal sebenarnya berbeda: ulang tahun dan hari lahir.Ulang tahun hanya memastikan angka bertambah.Hari lahir seharusnya memastikan semangat ikut lahir kembali.Kalau ulang tahun, lilinnya yang bertambah.Kalau hari lahir, harapannya yang bertambah.Kalau ulang tahun, cukup beli kue.Kalau hari lahir, mestinya ada tekad memperbaiki diri.Nah, pertanyaannya, Hari Bhayangkara lebih sering dirayakan sebagai ulang tahun atau benar-benar menjadi hari lahir?Jangan-jangan yang berubah hanya desain logonya.Tema berganti.Spanduk baru.Seragam baru.Hashtag baru.Tetapi kebiasaan lama masih betah tinggal.Seperti rumah kontrakan yang sewanya sudah dibayar lima tahun ke depan.Setiap tahun tema peringatannya terdengar luar biasa.Melayani.Mengayomi.Melindungi.Presisi.Humanis.Profesional.Kalau tema bisa menangkap maling, mungkin angka kejahatan sudah turun drastis.Sayangnya tema hanya tulisan.Yang diuji masyarakat adalah kenyataan.Masyarakat tidak menilai institusi dari baliho.Masyarakat menilai dari pengalaman ketika datang ke kantor polisi.Masyarakat menilai dari cara petugas berbicara.Masyarakat menilai dari kecepatan menangani laporan.Dan yang paling penting, masyarakat menilai apakah hukum benar-benar berdiri tegak atau justru sering terlihat membungkuk.Kepercayaan publik tidak dibangun oleh slogan.Kepercayaan dibangun oleh tindakan yang konsisten.Ada sebuah lelucon yang beredar.Katanya, kalau ingin mengetahui apakah sebuah pelayanan sudah berubah, jangan lihat ruang tunggunya. Lihatlah wajah orang yang keluar dari ruang pelayanan.Kalau masuk tersenyum lalu keluar tetap tersenyum, berarti pelayanan berjalan baik.Kalau masuk tersenyum lalu keluar sambil mengelus dada, mungkin masih ada pekerjaan rumah.
Polri tentu telah melakukan banyak pembenahan dalam berbagai bidang.Namun di sisi lain, berbagai kasus yang melibatkan oknum anggota juga terus menjadi sorotan publik.Ironisnya, satu kesalahan oknum sering kali menghapus seribu kebaikan anggota lain yang bekerja dengan jujur.Inilah beratnya menjadi institusi besar.Setetes tinta hitam bisa mengubah seember air jernih menjadi keruh.Karena itu, memperbaiki citra tidak cukup dengan membuat video sinematik atau slogan baru.Yang dibutuhkan adalah keberanian membersihkan diri dari dalam.Hari Bhayangkara seharusnya menjadi momentum kelahiran kembali semangat profesionalisme.Momentum untuk bertanya dengan jujur:Apakah masyarakat hari ini lebih mudah mendapatkan keadilan?Apakah warga kecil merasa dilindungi?Apakah hukum benar-benar berlaku sama bagi semua orang?Kalau jawaban atas pertanyaan itu masih membuat kita terdiam cukup lama, mungkin memang masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.Masyarakat tidak berharap polisi menjadi malaikat.Masyarakat hanya berharap polisi tetap menjadi polisi.Berani melindungi yang lemah.Tegas kepada pelanggar hukum.Ramah kepada masyarakat.Dan tidak membedakan pelayanan berdasarkan status sosial.Sebab seragam tidak otomatis menghadirkan wibawa.Yang menghadirkan wibawa adalah integritas.Pangkat bisa diperoleh melalui pendidikan.Tetapi kepercayaan hanya diperoleh melalui keteladanan.Maka, Dirgahayu Bhayangkara bukan sekadar ucapan.Ia adalah pengingat.Bahwa setiap tahun seharusnya bukan hanya usia yang bertambah.Tetapi juga kualitas pelayanan, keberanian menegakkan hukum, dan kepercayaan masyarakat.Kalau yang bertambah hanya usia, itu namanya ulang tahun.Kalau yang bertambah adalah integritas, keberanian, dan semangat melayani, barulah layak disebut hari lahir.Selamat Hari Bhayangkara.Semoga yang lahir bukan sekadar perayaan baru, tetapi juga tekad baru untuk semakin dekat dengan keadilan dan semakin dipercaya oleh rakyat.***