Belajar dari Dunia, Membangun Pemerintahan Digital Indonesia

Administrator - Jumat, 08 Mei 2026 08:18 WIB
Ist
Belajar dari Dunia, Membangun Pemerintahan Digital IndonesiaDari Diplomasi Pengetahuan hingga Tata Kelola Digital Masa DepanOleh: Abdullah Rasyid*Mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDNDi tengah dunia yang bergerak menuju era kecerdasan buatan, big data, dan digital governance, kualitas sebuah negara tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan militer atau besarnya sumber daya alam. Negara modern kini diukur dari kemampuan tata kelolanya: seberapa cepat melayani rakyat, seberapa adaptif menghadapi perubahan, dan seberapa cerdas membangun kolaborasi global.Karena itu, pembangunan pemerintahan digital bukan lagi sekadar agenda teknologi. Ia telah menjadi strategi peradaban.Kesadaran itulah yang terasa kuat dalam kunjungan strategis delegasi Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) ke Institute for Global Public Policy (IGPP) Fudan University Shanghai, Tiongkok. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Wakil Rektor IPDN Prof. Hyronimus Rowa dan Prof. Muhadam Labolo, sementara penulis bertindak sebagai pimpinan rombongan mahasiswa IPDN dalam agenda Strategic Study mengenai tata kelola pemerintahan dan transformasi digital.Kunjungan tersebut bukan sekadar perjalanan akademik biasa. Ia menjadi ruang pembelajaran tentang bagaimana negara modern membangun birokrasi yang efektif, kolaboratif, dan berorientasi pada hasil nyata bagi masyarakat.

.Di tengah kompetisi global yang semakin ketat, satu hal menjadi jelas: negara yang ingin maju tidak bisa berjalan sendirian. Ia harus membuka diri terhadap pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan perspektif global.Fudan University menjadi salah satu contoh bagaimana institusi pendidikan dapat berfungsi sebagai pusat diplomasi pengetahuan (knowledge diplomacy). Melalui Institute of International Studies (IIS) dan IGPP, Fudan aktif membangun jejaring kerja sama dengan Indonesia dalam bidang hubungan internasional, tata kelola pemerintahan, riset kebijakan publik, hingga pengembangan kapasitas sumber daya manusia. Kerja sama tersebut melibatkan banyak akademisi dan institusi Indonesia, mulai dari Universitas Indonesia, UGM, UMY, UIII, BRIN, hingga berbagai lembaga kajian strategis. Tema yang dibahas pun tidak sederhana: mulai dari Laut China Selatan, Belt and Road Initiative, diplomasi budaya, faith diplomacy, hingga masa depan hubungan ASEAN–China. Namun di balik semua diskusi itu, ada satu benang merah yang sangat relevan bagi Indonesia hari ini: pentingnya membangun tata kelola pemerintahan yang modern dan adaptif terhadap perubahan global.Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar. Di satu sisi, masyarakat semakin digital. Mereka ingin layanan yang cepat, sederhana, dan transparan. Namun di sisi lain, birokrasi sering kali masih bergerak dengan pola lama: lambat, sektoral, dan kurang terintegrasi.Karena itu, transformasi digital tidak cukup hanya menghadirkan aplikasi atau sistem baru. Yang lebih penting adalah membangun budaya kerja baru dalam pemerintahan.Budaya kolaborasi menjadi fondasi utama.Pemerintahan digital tidak mungkin dibangun dengan ego sektoral. Negara modern membutuhkan integrasi data, sinergi kelembagaan, dan kemampuan bekerja lintas disiplin. Di sinilah pentingnya pertukaran pengetahuan internasional. Kita belajar bahwa keberhasilan tata kelola di banyak negara lahir bukan karena satu institusi yang kuat, tetapi karena kemampuan seluruh sistem untuk bergerak bersama.Pelajaran lain yang sangat terasa selama kunjungan di Shanghai adalah pentingnya orientasi hasil (result-oriented governance). Teknologi bukan tujuan akhir. Ia hanyalah alat untuk menghadirkan pelayanan publik yang lebih efektif.Rakyat tidak terlalu peduli seberapa canggih sistem digital pemerintah. Yang mereka rasakan adalah apakah pelayanan menjadi lebih cepat, apakah proses birokrasi lebih mudah, dan apakah negara hadir secara nyata dalam kehidupan sehari-hari mereka.Karena itu, digitalisasi pemerintahan sejatinya adalah proyek kemanusiaan, bukan sekadar proyek teknologi.Transformasi digital juga harus dibangun di atas integritas. Sistem secanggih apa pun tidak akan bermakna bila tidak didukung etika pelayanan publik, akuntabilitas, dan budaya profesionalisme.Di tengah dunia yang semakin terhubung, Indonesia membutuhkan aparatur negara yang tidak hanya memahami administrasi pemerintahan, tetapi juga memiliki wawasan global dan kemampuan membaca perubahan zaman.Kunjungan akademik seperti ini menjadi penting karena membuka perspektif baru bahwa masa depan pemerintahan akan sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Negara yang unggul bukan hanya negara dengan teknologi paling maju, tetapi negara yang mampu mengubah pengetahuan menjadi kebijakan dan pelayanan publik yang efektif.Dalam konteks pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, agenda transformasi digital memiliki kaitan langsung dengan visi Asta Cita: membangun tata kelola pemerintahan yang efektif, bersih, profesional, dan berpihak pada rakyat.

.Indonesia membutuhkan birokrasi yang lebih lincah, adaptif, dan kolaboratif. Dunia berubah terlalu cepat untuk dihadapi dengan pola kerja lama.Karena itu, semangat "belajar bersama, membangun pemerintahan digital yang bermakna" bukan sekadar slogan. Ia adalah kebutuhan strategis bangsa.Kita boleh belajar dari dunia, tetapi tujuan akhirnya tetap satu: membangun sistem pemerintahan Indonesia yang lebih kuat, modern, dan berdaulat.Sebab pada akhirnya, masa depan bangsa tidak dibangun oleh mereka yang merasa paling tahu. Masa depan dibangun oleh mereka yang terus mau belajar, berkolaborasi, dan berani berubah demi pelayanan terbaik bagi rakyat dan negara.rel

Sumber
:

Tag:

Berita Terkait

News

Belajar dari Shanghai: Ketika Kota Dibangun untuk Manusia, Bukan Sekadar Kendaraan