ACEH TAMIANG - Di antara lumpur sisa bencana hidrometeorologi (banjir, pohon tumbangdan tanah longsong) yang masih menutupi sebagian rumah warga di Aceh Tamiang, sosokNurhabli Ridwan menjadi potret keteguhan relawan kemanusiaan. Pria asal Deli Serdang,Sumatera Utara ini memilih bertahan satu bulan lebih di lokasi bencana, mengabdikan diriuntuk para penyintas yang masih berjuang dalam masa tanggap darurat bencana.Bagi Nurhabli, dunia kerelawanan bukanlah hal baru. Sejak duduk di bangku SMK, ia telahmengenal kegiatan kemanusiaan melalui organisasi yang diikutinya di Kabupaten DeliSerdang.Hingga kini, tepat 3 Februari 2026 mendatang usianya 31 tahun, langkahnya tak pernahjauh dari aktivitas sosial. Sehari-hari, Nurhabli aktif di Perhimpunan Penjelajah AlamBencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS), mengabdikan waktunyauntuk berbagai kegiatan sosial, kemanusiaan dan lingkungan hidup.Dalam bencana hidrometeorologi (banjir, pohon tumbang dan tanah longsong) yangmelanda Aceh - Sumatera, Nurhabli hadir sebagai relawan untuk wilayah Provinsi Acehtepatnya di Kabupaten Aceh Tamiang. Keputusan untuk berangkat ke Aceh Tamiangmenjadi relawan adalah bentuk kepedulian kemanusiaan. Awalnya, ia yang mewakili GRASbersama dengan tim kolaborasi relawan kemanusiaan bergerak dari medan ke lokasibencana hanya mendistribusikan logistik ke wilayah pelosok yang belum terjangkau.Setelah di lokasi melihat rumah-rumah hancur, rata dengan tanah, sisa lumpur masihmenutupi rumah-rumah, orang-orang berdiri di pinggir jalan menanti bantuan, sebagiandengan tatapan kosong penuh harap. Aktivitas belum pulih, dan kebutuhan dasar menjadipersoalan utama. Ia memutuskan untuk tinggal dan bergabung di Posko Pertamina Peduliyang berlokasi di halaman kantor disdukcapil Kabupaten Aceh Tamiang.Selama berada di Aceh Tamiang, Nurhabli tidak terpaku pada satu peran. Ia mengisikebutuhan apa pun yang dibutuhkan di lapangan. Mulai dari menjaga posko, assessmentdata, membantu distribusi logistik, distribusi air bersih, hingga turun langsung membersihkanlumpur dan membersihkan sumur cincin yang digunakan warga. Tidak ada pembagian tugasyang kaku. Selama tenaga masih ada, apapun saya lakukan.Menurut Nurhabli, dalam misi kebencanaan Aceh Tamiang ini, kami membangun kolaborasiluas dengan relawan dari berbagai komunitas. Pertama organisasi GRAS berkolaborasidengan banyak komunitas, seperti Relawan Palang Merah Indonesia (PMI), AnggotaMapala Generasi Pencinta Kelestarian Alam (Genetika) Fakultas Pertanian UISU Medandan Yayasan Pendidikan Islam Al-Fakhri Sunggal.Setelah itu GRAS juga berkolaborasi dengan Emergency Respon Posko Merah Putih(Erump), Pertamina Peduli, KPA Karpa Buana, KPA Teratai, Yayasan Wanadri, TNI, AmalKeluarga Besar Bugis - Makasar dan komunitas lainnya.Bagi Nurhabli, relawan dari berbagai daerah turun langsung ke lokasi bencana, menyatukantenaga dan niat ikhlas tanpa pamri untuk membantu saudara-saudara kita yang sedangtertimpa musibah. Ini bukan lagi bencana biasa, skala kerusakan yang melanda hampirseluruh Aceh Tamiang. Membuat ia beberapa kali harus kuat menahan air mata danmengaku tak pernah membayangkan satu wilayah bisa lumpuh sedemikian rupa.Dalam momen bencana seperti ini, peran relawan sangatlah vital. Mereka bukan hanyamenyalurkan bantuan berupa materi, tetapi juga memberikan dukungan emosional kepadapara warga di tengah trauma yang mendalam.Di antara lumpur, reruntuhan rumah, dan tatapan lelah para penyintas, langkah NurhabliRidwan menjadi gambaran tentang pengabdian yang lahir dari empati. Relawan itu adalahmanusia tangguh yang sulit dimengerti jiwa nya dan lebih mengutamakan berguna untukkemanusiaan daripada hidup nyaman tanpa arti.Kini Pemerintah Aceh menetapkan status Transisi Darurat ke Pemulihan Bencana selama90 hari, terhitung sejak 29 Januari hingga 29 April 2026. Status ini ditetapkan sebagailangkah lanjutan penanganan dampak bencana sekaligus persiapan menuju pemulihanpascabencana.Semoga penetapan status transisi ini dapat benar-benar dimanfaatkan untuk memastikankebutuhan dasar pengungsi terpenuhi, sekaligus mempercepat langkah rehabilitasi danrekonstruksi. Jangan sampai masyarakat terlalu lama berada dalam kondisi darurat.