MENGUJI JANJI PEMBENAHAN IMIPASOleh Abdullah Rasyid Staf Khusus Bidang Komunikasi dan Media Menteri Imigrasi dan PemasyarakatanMengurus paspor sering kali dimulai dengan harapan yang sederhana: semoga prosesnya lancar, biayanya jelas, dan dokumennya selesai sesuai waktu yang dijanjikan. Ada yang sedang menyiapkan perjalanan ibadah, melanjutkan pendidikan, bekerja, atau menemui keluarga yang sudah lama terpisah. Di balik setiap permohonan, ada rencana hidup yang sedang diusahakan.Begitu pula bagi pengguna layanan izin tinggal. Mereka membutuhkan kepastian tentang persyaratan dan proses yang harus dilalui. Ketika ada kendala, penjelasan yang ramah dan mudah dipahami bisa mengurangi kecemasan.Perasaan serupa hadir dalam keluarga warga binaan. Mereka menunggu kabar tentang hak anggota keluarganya, mencari informasi mengenai tahapan pembebasan bersyarat, atau menempuh perjalanan jauh untuk sebuah kunjungan. Ketidakjelasan membuat penantian terasa lebih berat.Dari pengalaman itulah pelayanan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan memperoleh maknanya. Negara terasa hadir ketika orang mendapat jawaban yang jelas dan diperlakukan dengan hormat.Membaca Evaluasi dari Pengalaman WargaKerja Tim Evaluasi dan Perbaikan Tata Kelola Pelayanan Publik memberikan kesempatan untuk memahami apa yang masih menghambat pelayanan.Pada bidang keimigrasian, rancangan quick win menyentuh layanan paspor, izin tinggal, serta pemeriksaan keimigrasian di perbatasan. Perhatian diberikan pada pengendalian alur layanan, transparansi kuota M-Paspor, penggunaan akun sesuai kewenangan, dan pemeriksaan berbasis risiko.Bagi masyarakat, istilah teknis itu mungkin terasa jauh. Namun, manfaat yang diharapkan cukup dekat: antrean yang tertib, proses yang dapat ditelusuri, serta penjelasan ketika permohonan belum bisa diselesaikan.Pada bidang pemasyarakatan, paparan perkembangan evaluasi menyaring 52 layanan menjadi delapan layanan prioritas. Observasi dan uji petik pada 18 UPT di lima wilayah menemukan sejumlah persoalan, termasuk asesmen yang belum konsisten menjadi dasar penempatan, keberadaan fasilitas nonstandar, serta keterbatasan informasi layanan.Temuan ini perlu dibaca sesuai cakupan pemeriksaannya. Kondisi pada lokasi uji petik tidak dapat langsung dianggap mewakili seluruh satuan kerja. Tetapi temuan tersebut cukup memberi alasan untuk memperhatikan titik rawan dengan lebih sungguh-sungguh.Di baliknya ada kebutuhan manusia: perlakuan yang adil, hunian yang layak, dan kesempatan memperoleh hak melalui proses yang dapat dipahami.Menjaga Kesepakatan RakorRapat Koordinasi Kemenimipas yang ditutup pada 23 September 2026 telah merumuskan tindak lanjut atas pekerjaan evaluasi tersebut.Laporan penutupan mencatat penyusunan 33 SOP Administrasi Pemerintahan dan dua surat edaran pada bidang keimigrasian. Penerapannya direncanakan melalui internalisasi kepada jajaran, penguatan kompetensi petugas, serta pemantauan berkala.Pada bidang pemasyarakatan, laporan itu menyebut rancangan rencana kerja tindak lanjut Rakor, standar waktu pemberian hak integrasi, serta penguatan tata kelola Penelitian Kemasyarakatan atau Litmas.Semua ini merupakan kemajuan yang perlu dijaga. Namun, penyusunan dokumen dan pelaksanaan di lapangan mempunyai tahapan yang berbeda. Kita masih perlu melihat bagaimana pedoman disahkan, dipahami petugas, dan digunakan dalam pelayanan sehari-hari.Keluarga yang menunggu kepastian pembebasan bersyarat tentu berharap standar waktu tersebut membantu mereka mengetahui posisi berkas. Pemohon paspor berharap pedoman pelayanan membuat proses lebih mudah dipahami. Harapan-harapan inilah yang memberi arah pada tindak lanjut Rakor.Monev yang Dekat dengan KenyataanPaparan persiapan monitoring dan evaluasi pada 12 Oktober 2026 menunjukkan bahwa perangkat pemeriksaan pengadaan bahan makanan serta blok dan kamar hunian telah disusun. SK Tim masih menunggu penandatanganan Menteri, sementara kesiapan instrumen lainnya perlu dikonfirmasi.Monev ini perlu menghubungkan rekomendasi Tim Evaluasi dengan kesepakatan Rakor. Pertanyaannya sederhana: apa yang sudah berubah, apa yang masih tersendat, dan dukungan apa yang dibutuhkan?Pada pengadaan bahan makanan, pemeriksaan perlu menjangkau makanan yang benar-benar diterima warga binaan. Pada hunian, pemeriksaan perlu melihat kondisi kamar, dasar penempatan, dan kesesuaian fasilitas dengan standar.relUntuk layanan keimigrasian, dokumen pengendalian perlu diuji melalui pengalaman pemohon dan praktik petugas. Apakah informasi mudah diperoleh? Apakah perubahan proses tercatat? Apakah kendala mendapat penjelasan?Pendekatan PRIMA—Petakan, Bersihkan, Benahi, Kuatkan, dan Jaga—akan berguna apabila membantu persoalan bergerak menuju penyelesaian. Setiap rekomendasi membutuhkan penanggung jawab dan tenggat, lalu diperiksa kembali hasilnya.Memberi Ruang untuk JujurPembenahan juga perlu mendengar petugas. Ada yang menghadapi beban kerja tinggi, sarana terbatas, atau prosedur yang belum jelas. Mereka membutuhkan dukungan agar dapat melayani dengan baik.Keterbukaan tentang kesulitan membantu pimpinan membedakan hambatan kerja, kelemahan sistem, dan dugaan penyimpangan. Masing-masing memerlukan jawaban yang tepat. Ketegasan tetap diperlukan ketika pelanggaran terbukti, sementara petugas yang bekerja benar layak mendapat perlindungan.Kepercayaan tumbuh melalui pengalaman yang berulang. Hari ini mendapat informasi yang jelas. Besok memperoleh layanan sesuai ketentuan. Ketika mengadu, ada yang mendengar dan menindaklanjuti.Di situlah hasil evaluasi, kesepakatan Rakor, dan Monev akan terasa berarti: ketika orang yang datang membawa kebutuhan pulang dengan kepastian, serta merasa bahwa negara menghargai dirinya.