Jepara —
Jepara kembali menunjukkan dirinya sebagai salah satu ruang penting dalam pelestarian budaya perkerisan Nusantara. Sejak 20 Agustus 2026, kegiatan Kawruh Pusaka Keris digelar oleh Pamardi Budaya dengan berpusat di Joglo Hadipuran, Sukodono, Tahunan,
Jepara.Rangkaian kegiatan tersebut tidak sekadar menghadirkan pameran benda pusaka. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi ruang untuk mbabar kawruh, menggali pengetahuan, sejarah, filosofi, seni, hingga nilai spiritual yang melekat pada keris dan tradisi tosan aji.Setelah kegiatan di Joglo Hadipuran, rangkaian acara berlanjut di Pendopo Kabupaten
Jepara dan kemudian di Museum Kartini yang berada di kawasan Alun-Alun
Jepara. Beragam keris dipamerkan sebagai bagian dari Festival Mpu Tosan Aji yang berlangsung pada Jumat Kliwon, 21 Agustus 2026.Kegiatan ini diikuti para penghayat kejawen dan pencinta tosan aji dari berbagai daerah. Mereka datang antara lain dari Purworejo, Malang, Pekalongan, Bekasi, Nganjuk, Ponorogo, Ngawi, Boyolali, hingga Tuban.Hadir dengan tekad kuat Ki Aryo Pandu dari Senapati Nusantara Yogyakarta. Sambutan hangat juga diberikan KPH Bambang Hadiningrat selaku Ketua Paguyuban Kawula Karaton Surakarta (Pakasa) Cabang
Jepara, serta KMT Susanti Purwaningrum selaku Pengageng Joglo Hadipuran.Keris Bukan Sekadar SenjataDalam pandangan budaya Jawa, keris bukan sekadar benda tajam atau senjata tradisional. Keris merupakan bagian dari tosan aji, karya empu yang mengandung perpaduan pengetahuan, keterampilan, filosofi, estetika, dan laku budaya.Ngelmu laku menjadi salah satu dasar penting dalam tradisi pembuatan keris. Karena itu muncul ungkapan bahwa pusaka bertuah karena laku, sedangkan keris berwibawa karena ngelmu.Keris ditempatkan sebagai sarana kawibawan, kawidadan, kamulyan, dan karaharjan. Di balik bentuk, pamor, ricikan, dan proses pembuatannya terdapat pemaknaan yang panjang mengenai hubungan manusia dengan alam, sesama manusia, serta Sang Pencipta.Empu dalam tradisi Jawa juga diyakini bukan hanya seorang pandai besi. Ia merupakan sosok yang memiliki kemampuan teknis sekaligus kedalaman spiritual. Proses penciptaan keris menjadi perpaduan antara keahlian metalurgi dan laku batin.Karena itu, sejarah keris tidak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangan peradaban manusia. Metalurgi menjadi salah satu indikator kemajuan teknologi. Peradaban yang kokoh antara lain dibangun melalui kemampuan manusia mengolah logam.
Jepara dan Jejak Empu
Jepara memiliki posisi penting dalam perjalanan budaya perkerisan. Kabupaten ini menjadi salah satu pusat produksi keris tradisional sekaligus ruang bertemunya para empu, pemerhati, kolektor, dan pelestari budaya.Jejak Empu Supa dari Kadipaten Tuban juga menjadi bagian dari narasi panjang perkembangan perkerisan Jawa. Tradisi keilmuan tosan aji kemudian diwariskan secara turun-temurun dan berkembang di berbagai wilayah.Dalam tradisi Jawa dikenal ungkapan "waskita, ngerti sakdurunge winarah", sebuah gambaran tentang ketajaman batin dan keluasan pengetahuan yang diidealkan dalam kehidupan.Nama-nama empu dan karya mereka menjadi bagian dari perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan Jawa. Dari Medang, Kahuripan, Jenggala, Daha, Kediri, Singasari, Majapahit, Pengging, Malawapati, Demak, Pajang hingga Mataram, keris hadir sebagai bagian dari simbol kebudayaan dan kekuasaan.Pusaka seperti Nagasasra dan Sabuk Inten, yang dikaitkan dengan tradisi Keraton Demak Bintoro, Kyai Crubuk dalam tradisi Pajang, serta Kyai Plered dalam tradisi Mataram, memperlihatkan bagaimana keris mendapatkan tempat penting dalam ingatan sejarah dan kebudayaan Jawa.Tangguh, Wutuh, Sepuh, AmpuhKeris juga memuat konsep tangguh, wutuh, sepuh, dan ampuh.Tangguh berkaitan dengan kawibawan dan kawidadan. Wutuh mengandung gagasan tentang pikiran yang sistematis, integral, dan komprehensif. Sepuh mengingatkan manusia kepada leluhur yang telah memberikan tepa palupi, keteladanan yang dapat dijadikan pedoman.Sementara ampuh dimaknai sebagai kekuatan yang senantiasa mengokohkan jati diri.Dari perspektif etika, nilai-nilai tersebut berkelindan dengan sastra piwulang. Keris akhirnya tidak hanya dipahami melalui bentuk fisiknya, tetapi juga melalui pesan moral yang menyertainya.Dalam kebudayaan Jawa, nilai itu dapat dibaca melalui konsep cipta, rasa, karsa; iman, ilmu, amal; serta ulat, patrap, pangucap. Pengetahuan harus beriringan dengan sikap, ucapan, tindakan, dan tanggung jawab moral.Seni yang Menghidupkan PusakaPembukaan pameran semakin semarak dengan hadirnya Tari Bumi Pusaka. Tiga putri tampil lemah gemulai dengan gerakan yang sekaligus lincah dan gagah, menggambarkan sosok prajurit wanita yang membawa pusaka.Pertunjukan tersebut menjadi simbol bahwa pelestarian keris tidak hanya berbicara tentang benda, tetapi juga tentang seni, karakter, pengabdian, dan kecintaan kepada tanah air.Lagu Mars
Jepara yang berkumandang dengan semangat sigrak, gumyak, jenak, enak, penak semakin membangkitkan suasana kebangsaan.
Jepara memiliki sejumlah figur sejarah yang menjadi sumber inspirasi, mulai dari Ratu Shima, Ratu Kalinyamat hingga R.A. Kartini. Semangat perjuangan mereka menegaskan bahwa kebudayaan dapat menjadi sumber energi untuk membangun bangsa.Dari
Jepara untuk Indonesia.Melestarikan dengan Ilmu, Bukan Sekadar MengagumiDalam wedharing sabda-nya, KPH Bambang Hadiningrat menekankan pentingnya unsur logika dalam Festival Mpu Tosan Aji. Pelestarian keris membutuhkan pemahaman yang tidak berhenti pada kekaguman terhadap bentuk dan aura pusaka.Keris perlu dipelajari berdasarkan konteks historis. Untuk memahami nilai yang terkandung di dalamnya dibutuhkan analisis filosofis. Sementara keindahannya dapat dikaji melalui pendekatan estetis.Dengan demikian, pelestarian keris harus berjalan bersama ilmu pengetahuan dan perkembangan zaman.Empu Tomaji
Jepara disebut terus berkarya, sementara Empu Keman meneruskan tradisi dengan pendekatan ilmu pengetahuan. Generasi perkerisan juga mulai diarahkan untuk belajar secara akademis, termasuk melalui jurusan perkerisan di ISI Surakarta.Tradisi dan modernitas tidak harus dipertentangkan. Justru keduanya dapat berjalan beriringan agar keris tetap hidup sebagai kebudayaan, bukan sekadar menjadi artefak masa lalu.Menghidupkan Kembali Kawruh LeluhurKeris merupakan salah satu profesi tertua dalam lintasan peradaban. Pada masa kerajaan, empu memiliki posisi strategis karena kerajaan membutuhkan simbol-simbol kekuasaan, legitimasi, sekaligus nilai spiritual.Namun, di era modern, tantangannya berbeda. Keris harus ditempatkan sebagai sumber pengetahuan budaya yang dapat dipelajari secara terbuka, kritis, dan bertanggung jawab.Karena itu, kegiatan seperti Kawruh Pusaka Keris memiliki arti penting. Pameran di Museum Kartini bukan hanya memperlihatkan benda-benda pusaka, tetapi membuka ruang dialog antargenerasi.Para pelestari, empu, akademisi, penghayat budaya, kolektor, dan masyarakat dapat bertemu untuk membicarakan masa lalu sekaligus memikirkan masa depan.Keris mengajarkan bahwa sebuah bangsa tidak cukup hanya memiliki warisan. Warisan harus dipahami, dirawat, dikembangkan, dan diwariskan kembali kepada generasi berikutnya.Murih padhanging sasmita—agar semakin terang dalam menangkap makna dan pesan yang terkandung di balik warisan leluhur.Dari
Jepara, kawruh pusaka tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Ia menjadi jalan untuk merawat identitas, memperkuat karakter, menumbuhkan nasionalisme, dan menghidupkan kembali kesadaran bahwa kebudayaan adalah bagian penting dari jatidiri Indonesia.Dari pusaka untuk kawruh. Dari kawruh untuk jatidiri. Dari
Jepara untuk Indonesia.Purwadi
Jepara, Jumat Kliwon, 21 Agustus 2026