Oleh: Abdullah RasyidStaf Khusus Menteri Imigrasi dan PemasyarakatanKemerdekaan biasanya dirayakan dengan bendera, upacara, perlombaan, dan berbagai seremoni. Di lingkungan pemasyarakatan, kita mengenal pula pemberian remisi sebagai bagian dari tradisi setiap Agustus. Namun ada ukuran kemerdekaan lain yang jarang dibicarakan: apakah negara tetap hadir untuk menjamin hak-hak dasar seseorang ketika kebebasannya sedang dibatasi?Pertanyaan itu menemukan jawabannya dalam sebuah kegiatan yang berlangsung di RSU Pemasyarakatan Jakarta, Cipinang, Senin, 10 Agustus 2026.Menjelang peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto bersama Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus meninjau pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG), pemeriksaan katarak, sekaligus operasi katarak bagi warga binaan dan masyarakat.Angka yang dipilih memang simbolis: 81 warga binaan dan 81 masyarakat umum menjadi sasaran kegiatan. Namun di balik angka itu ada sesuatu yang lebih penting. Ini bukan sekadar pencanangan. Tindakan medisnya benar-benar berjalan. Pada pagi hari, dari 17 warga binaan yang telah menjalani pemeriksaan katarak, tujuh orang sudah selesai dioperasi. RSU Pemasyarakatan sendiri selama ini juga bukan fasilitas yang sepenuhnya tertutup; sejak 2022 rumah sakit tersebut telah melayani masyarakat umum.Di sinilah kegiatan di Cipinang menarik untuk dibaca lebih jauh.Program CKG merupakan salah satu Program Hasil Terbaik Cepat atau Quick Win pemerintahan Presiden Prabowo Subianto di bidang kesehatan. Program ini berangkat dari gagasan sederhana tetapi mendasar: jangan menunggu orang sakit untuk mengetahui bahwa tubuhnya bermasalah. Pemeriksaan kesehatan harus bergerak ke wilayah pencegahan dan deteksi dini.Selama bertahun-tahun, sistem kesehatan kita memang cenderung lebih sibuk mengobati penyakit dibandingkan menemukan penyakit sebelum terlambat. Hipertensi, diabetes, gangguan fungsi ginjal, penyakit jantung, TBC, bahkan gangguan penglihatan dapat berkembang perlahan tanpa keluhan berarti. Ketika pasien datang, kondisinya kadang sudah jauh lebih berat.Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengingatkan soal itu di Cipinang. Pemeriksaan kesehatan diperlukan justru karena hipertensi dan diabetes dapat berlangsung tanpa gejala, padahal keduanya berkaitan erat dengan berbagai penyakit berat. Hingga 10 Agustus 2026, menurut data yang disampaikannya, CKG telah menjangkau sekitar 73,4 juta orang.Tetapi ada persoalan lain yang tak kalah penting: siapa yang berhasil dijangkau oleh negara?Warga binaan memiliki karakter yang berbeda dengan masyarakat di luar tembok lapas. Mereka tidak bisa memilih rumah sakit sesuka hati, mencari dokter spesialis sendiri, atau datang ke fasilitas kesehatan ketika merasa membutuhkan. Mobilitas mereka dibatasi oleh hukum. Karena itulah tanggung jawab negara justru menjadi lebih besar.Seseorang memang dapat kehilangan kebebasannya karena menjalani pidana. Namun ia tidak kehilangan martabat sebagai manusia.Cara pandang ini penting dalam membaca pemasyarakatan modern. Lapas tidak semestinya hanya dipahami sebagai tempat mengurung seseorang sampai masa pidananya berakhir. Pemasyarakatan adalah proses mempersiapkan manusia agar suatu hari dapat kembali menjalani kehidupan sosial secara lebih baik.Bagaimana seseorang hendak dipersiapkan kembali ke masyarakat jika kesehatan dasarnya diabaikan?Karena itu, operasi katarak di Cipinang mempunyai makna yang melampaui tindakan bedah mata. Bagi seseorang yang penglihatannya selama bertahun-tahun kabur, kemampuan melihat kembali berarti kemampuan membaca, bekerja, mengikuti pembinaan, berkomunikasi, dan kelak menjalani kehidupan secara mandiri.Di titik inilah CKG dan operasi katarak bertemu dalam satu garis kebijakan.CKG adalah pintu masuk. Pemeriksaan menemukan persoalan. Tetapi skrining tanpa tindak lanjut hanya menghasilkan daftar penyakit. Negara baru benar-benar bekerja ketika temuan kesehatan diikuti rujukan, pengobatan, tindakan medis, rehabilitasi, dan pemantauan.Cipinang memperlihatkan bagaimana mata rantai itu dapat dibangun.Lebih menarik lagi, Menteri Agus Andrianto mendorong agar fasilitas kesehatan di lapas dan rutan diperkuat sehingga tidak hanya melayani warga binaan, tetapi dalam kapasitas tertentu juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Gagasan ini layak dikembangkan.Selama ini tembok lapas sering membentuk persepsi bahwa segala sesuatu di dalamnya terpisah dari masyarakat. Padahal ribuan petugas bekerja di sana, keluarga datang berkunjung, dan lapas merupakan bagian dari lingkungan sosial suatu daerah.Bayangkan jika klinik-klinik pemasyarakatan yang memenuhi standar tertentu dapat menjadi simpul pelayanan kesehatan tambahan bagi masyarakat sekitar. Negara tidak perlu selalu membangun sesuatu dari nol. Infrastruktur yang sudah ada dapat dioptimalkan, tentu tanpa mengurangi fungsi utamanya dan dengan memperhatikan aspek keamanan.Kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan, organisasi profesi kedokteran, yayasan sosial, rumah sakit, perguruan tinggi, dan sektor swasta juga membuka ruang yang jauh lebih luas. Tidak semua persoalan kesehatan warga binaan harus diselesaikan Kemenimipas sendirian.Tetapi justru di sini ujian berikutnya dimulai.Kegiatan menjelang 17 Agustus selalu memiliki daya tarik seremonial yang tinggi. Angka 81 bertemu dengan usia kemerdekaan ke-81. Foto-foto mudah dibuat. Berita mudah diterbitkan. Yang jauh lebih sulit adalah memastikan apa yang terjadi setelah spanduk diturunkan.Berapa pasien yang pulih setelah operasi? Apakah mereka memperoleh pemeriksaan pascaoperasi secara memadai? Bagaimana tindak lanjut terhadap warga binaan yang dari CKG diketahui mengalami hipertensi, diabetes atau penyakit lain? Apakah tersedia rekam medis yang terintegrasi? Dan yang terpenting, apakah model Cipinang dapat diterapkan secara bertahap di lapas dan rutan lain?Ukuran keberhasilan tidak boleh berhenti pada berapa orang yang diperiksa. Yang harus dihitung adalah berapa penyakit ditemukan lebih dini, berapa pasien mendapatkan terapi, berapa komplikasi berhasil dicegah, dan sejauh mana kualitas hidup mereka membaik.Kalau itu dilakukan, CKG di lingkungan pemasyarakatan dapat berkembang dari sebuah program menjadi sistem.Dan mungkin di situlah makna kemerdekaan memperoleh bentuk yang paling sederhana sekaligus paling manusiawi. Negara hadir bukan hanya kepada mereka yang bebas berjalan ke mana saja, tetapi juga kepada mereka yang hidup di balik tembok dan pintu besi.Sebab hukuman boleh membatasi kebebasan seseorang. Kesehatan dan martabatnya tidak boleh ikut dipenjara.