Jakarta – Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 PT Indonesia Asahan Aluminium atau PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) menetapkan susunan direksi dan komisaris untuk periode kepengurusan berikutnya. Dalam rapat yang digelar pada 22 Juni 2026 tersebut, pemegang saham mempertahankan sebagian besar jajaran manajemen dan hanya melakukan perubahan pada satu posisi direksi.RUPST kembali menetapkan Melati Sarnita sebagai Direktur Utama dan Musa Bangun sebagai Komisaris Utama sekaligus Komisaris Independen.Perubahan terjadi pada posisi Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) dan Transformasi Bisnis. Jabatan tersebut kini diemban oleh Kemal Sudiro menggantikan Benny Wiwoho.Susunan Dewan KomisarisMusa Bangun – Komisaris Utama dan Komisaris IndependenIndra Simarta – KomisarisAli Said – KomisarisHari Soebagijo – Komisaris IndependenKardwiyana Ukar – KomisarisSusunan DireksiMelati Sarnita – Direktur UtamaKen Permana – Direktur KeuanganIvan Ermisyam – Direktur OperasiArif Haendra – Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha dan KomersialKemal Sudiro – Direktur SDM dan Transformasi BisnisCorporate Secretary Inalum, Mahyaruddin A.R., menyatakan bahwa dengan kepengurusan baru tersebut perusahaan optimistis dapat melanjutkan momentum pertumbuhan, memperkuat program hilirisasi aluminium nasional, serta memberikan kontribusi yang berkelanjutan bagi negara dan seluruh pemangku kepentingan.Kinerja Keuangan Tertinggi dalam 50 TahunSelain menetapkan susunan pengurus, RUPST juga mengesahkan Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan Konsolidasian Tahun Buku 2025. Perseroan memperoleh opini wajar dalam semua hal yang material dari Kantor Akuntan Publik Purwanto, Susanti dan Surja.Atas pengesahan tersebut, pemegang saham memberikan pelunasan dan pembebasan tanggung jawab sepenuhnya (volledig acquit et de charge) kepada Direksi dan Dewan Komisaris atas pelaksanaan tugas pengurusan dan pengawasan selama Tahun Buku 2025.Sepanjang 2025, Inalum membukukan kinerja terbaik sepanjang sejarah perusahaan yang telah berdiri selama lima dekade. Pendapatan perusahaan meningkat sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh kenaikan volume penjualan dan membaiknya harga komoditas aluminium.Sementara itu, laba bersih konsolidasian tumbuh 15 persen secara tahunan, sedangkan EBITDA meningkat 17 persen dibandingkan tahun sebelumnya.Di sektor operasional, produksi aluminium mencapai 280.082 metrik ton, naik sekitar 2 persen secara tahunan. Penjualan juga mencatatkan rekor tertinggi dengan volume 280.141 metrik ton, meningkat sekitar 1 persen dibandingkan tahun sebelumnya.Capaian tersebut ditopang oleh penyelesaian proyek Pot Upgrading, yang meningkatkan kapasitas produksi terpasang menjadi sekitar 274 ribu ton per tahun melalui peningkatan teknologi tungku reduksi menjadi arus 235 kA pada 170 tungku di Potline 2.Tata Kelola dan Program LingkunganDari sisi kesehatan perusahaan, Inalum memperoleh predikat "AA" dengan klasifikasi "Sehat", didukung peringkat idAA-/Stable dan idA+(sa) dari PEFINDO.Pencapaian Key Performance Indicators (KPI) kolegial tahun 2025 tercatat sebesar 85,54 persen (audited), sementara peringkat komposit risiko berada pada level 2.Dalam aspek tata kelola perusahaan, tingkat penerapan prinsip ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS) diproyeksikan meningkat menjadi 87,54 persen pada 2025, naik dari 81,01 persen pada tahun sebelumnya.Pada bidang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), Inalum merealisasikan berbagai program strategis sepanjang 2025, di antaranya pemberian beasiswa kepada 145 penerima manfaat, pelatihan bagi 110 guru, penanaman 15.000 pohon mangrove, pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di tiga lokasi, serta dukungan pembiayaan bagi usaha mikro dan kecil.Manajemen menilai capaian tersebut menjadi bukti keberhasilan strategi transformasi operasional, peningkatan efisiensi, serta penguatan hilirisasi aluminium yang dijalankan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir.