Oleh: H Syahrir Nasution
Integritas sering disebut sebagai kualitas tertinggi dalam ke
pemimpinan. Namun, justru pada titik inilah ke
pemimpinan paling kerap diuji. Bukan dalam situasi gemerlap dan penuh pujian, melainkan dalam ruang-ruang keputusan yang sunyi, ketika seorang
pemimpin harus memilih antara kepentingan nilai dan kepentingan sesaat.Ujian integritas berlaku lintas sektor. Dalam pemerintahan, dunia usaha, maupun pendidikan, ke
pemimpinan pada hakikatnya bukan hanya persoalan kewenangan, tetapi juga tanggung jawab moral. Seorang
pemimpin tidak semata-mata dinilai dari apa yang ia capai, melainkan dari cara ia mencapai tujuan tersebut.Dalam konteks pemerintahan, integritas menjadi fondasi legitimasi kekuasaan. Gubernur, bupati, dan wali kota memikul mandat publik yang menuntut konsistensi antara ucapan, kebijakan, dan tindakan. Ketika integritas terabaikan, kepercayaan publik pun perlahan terkikis, dan kebijakan kehilangan daya moralnya.Dunia pendidikan menghadirkan dimensi yang lebih kompleks. Pemimpin pendidikan—rektor, guru besar, dan pimpinan perguruan tinggi—tidak hanya mengelola institusi, tetapi juga menjaga marwah keilmuan. Pendidikan adalah ruang pembentukan karakter dan nilai. Karena itu, integritas
pemimpinnya menjadi penopang utama kredibilitas institusi. Tanpa integritas, keunggulan akademik berisiko menjadi formalitas belaka.Hal serupa berlaku di sektor swasta. Profesionalisme yang tidak ditopang oleh integritas akan kehilangan orientasi etik. Keputusan bisnis mungkin tampak rasional, tetapi tanpa nilai, ia dapat berujung pada praktik yang merugikan banyak pihak. Di sinilah integritas berfungsi sebagai kompas moral dalam ke
pemimpinan.Pada akhirnya, ke
pemimpinan selalu kembali pada sosok manusia yang menjalaninya. Jabatan dan gelar hanyalah instrumen. Yang menentukan adalah nilai yang dihidupi dalam setiap keputusan. Apakah ke
pemimpinan dijalankan sebagai amanah, atau sekadar sebagai sarana kekuasaan.
Integritas tidak lahir dari retorika. Ia tumbuh dari konsistensi, keberanian, dan kesediaan untuk memikul konsekuensi moral. Dalam konteks inilah integritas layak disebut sebagai kualitas tertinggi ke
pemimpinan—karena tanpanya, ke
pemimpinan kehilangan makna.