Medan — Pengamat sosial Syahrir Nasution kembali melontarkan kritik tajam terhadap proyek kolam
retensi di Kota Medan yang dikabarkan menelan anggaran hingga puluhan miliar rupiah. Ia menilai, proyek yang disebut sebagai hasil kolaborasi antara Pemerintah Kota Medan dan Universitas Sumatera Utara (
USU) tersebut merupakan bentuk "kolaborasi tak berkah."Menurut Syahrir, istilah "tak berkah" bukan sekadar kiasan, tetapi mencerminkan bahwa pekerjaan tersebut tidak mendapat ridho dari Allah SWT.
> "Suatu pekerjaan apabila dikatakan tak berkah, itu berarti tidak mendapat ridho dari Allah SWT. Banyak sebabnya kenapa tidak diridhai. Salah satunya karena adanya doa orang-orang yang terzalimi," ujar Syahrir, Senin (13/10/2025).Ia menambahkan, proyek publik seharusnya membawa manfaat besar bagi masyarakat, bukan sekadar menjadi ajang proyek mercusuar yang sarat kepentingan kelompok tertentu.
> "Kalau rakyat masih kebanjiran, kalau manfaatnya tidak dirasakan masyarakat, maka di situlah letak ketidakberkahan itu," tegasnya.Diketahui, sejumlah kolam
retensi di Medan seperti di kawasan
USU, Selayang, dan Martubung menjadi sorotan publik lantaran dianggap gagal mengatasi persoalan banjir yang kian parah. Padahal, proyek-proyek tersebut menelan biaya fantastis dari anggaran pemerintah.
Syahrir menilai, kondisi itu menunjukkan adanya persoalan serius dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek.> "Proyek besar harusnya menjadi solusi, bukan justru memperlihatkan kesia-siaan. Bila tidak dikerjakan dengan niat yang tulus dan amanah, hasilnya hanya akan menjadi beban bagi rakyat dan dosa bagi pelaksana," ujarnya menutup.